Rabu, 26 Januari 2011

Sejarah Pembuatan H-K G36

Heckler & Koch (HK) mulai merancang G36 pada tahun 1990, ketika itu Bundeswehr meminta HK untuk membuat senapan baru untuk menggantikan senapan yang sudah dipakai sejak tahun 1950-an, senapan tempur 7.62 × 51 mm G3. Sebelumnya dua rancangan HK sempat ditolak pada tahun 1980-an, yaitu senapan revolusioner G11 dan senapan konvensional G41.
Untuk senapan baru mereka HK50 (Proyek 50), HK mengikuti fitur-fitur yang terdapat pada sejumlah desain sebelumnya, dan juga membuat beberapa inovasi baru, berdasarkan pengalaman perancangan senjata-senjata sebelumnya, antara lain HK36, VP70, dan G11. Sistem penembaknya mirip AR-18 ArmaLite, yang menggunakan operasi gas piston pendek, dan bolt berputar Johnson/Stoner.

SS2-V4

Senapan Serbu Buatan Negri Sendiri


Sejarah kejuangan tentara Indonesia memang berbeda dengan beberapa Negara tetanga. Tercatat dengan tinta emas bagaimana ribuan arek suroboyo bersama tentara, berkorban meregang nyawa dalam peristiwa sepuluh November.
Hal tersebut secara psikologis menjadi kebanggan tersendiri bagi TNI. Tengok saja negara tetangga di Asia Tenggara. Hampir semuanya tidak mempunyai latar belakang merebut kemerdekaan dengan kemampuan diri sendiri. “yang pasti kami mempunyai tradisi sebagai tentara pejuang yang terlatih dan profesional di bidang pertahanan negara, itu yang membuat kita bangga di hadapan Negara lain,” kata Kadispenum Puspen TNI Kolonel CAJ Yani Basuki, Rabu (31/1).
Namun demikian, kata Kadispenum, kebanggaan secara psikologis tersebut harus diimbangi dengan profesionalitas dan kesejahteraan dari anggota TNI. “Saat ini kami merasa standar kemampuan TNI telah cukup, walaupun banyak sisi yang masih dirasa kurang,” katanya.
Sementara itu yang membanggakan PT. Industri Angkatan Darat (Pindad) siap melakukan inovasi di bidang persenjataan dan komitmennya memberikan yang terbaik bagi TNI dan Polri. “SS-2 (Senapan Serbu-2) buatan Pindad beberapa kali menang dalam ajang pertandingan Internasional. Yang terakhir di Brunei Darussalam,” kata Kadispenum.Sebelumnya di Brunei Darussalam anggota TNI yang memakai SS2-V4 berhasil mengalahkan angkatan bersenjata Brunei, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina dan Negara ASEAN lainnya yang memakai senapan serbu jenis M16 buatan USA dan AK buatan Rusia.
Senada dengan hal itu, direktur PT. Pindad Budi Santoso mengatakan bahwa SS-2 adalah senapan serbu produk terbaru PT. Pindad yang menggantikan SS-1.” Senapan ini mampu memuntahkan 760 peluru per menit menggunakan kaliber 5.56 mm x 45 dengan komponen seutuhnya asli produk PT. Pindad, S Irianto juga menuturkan keunggulan lain senapan SS2-V4. “ senapan ini dilengkapai alat bidik sistem teleskop opsional. Jarak efektif tembakannya cukup jauh, yaitu 600 meter, dengan jarak capai tiga kilometer,” katanya. Keunggulan lain SS2-V4 tahan terhadap cuaca dan karat. Rencananya Pindad mematok harga di bawah USS 500 untuk ekspor.

SS1 BUATAN ASLI INDOSESIA


SS1 adalah singkatan dari Senapan Serbu 1, senapan serbu yang banyak digunakan oleh TNI dan POLRI. Senapan ini diproduksi oleh PT. Pindad Bandung, berdasarkan senapan FN FNC dengan lisensi dari perusahaan senjata Fabrique Nationale (FN), Belgia.

Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 4,01 kg. Senapan ini bersama-sama dengan M16, Steyr AUG dan AK-47 menjadi senapan standar TNI dan POLRI, tapi karena diproduksi di Indonesia, senapan ini paling banyak digunakan.

Detail desain

SS-1 diproduksi dalam 2 konfigurasi utama, yaitu senapan standard dan karabin pendek. Versi senapan standar disebut SS1-V1 (FNC “Standard” Model 2000) dan karabin disebut SS1-V2 (FNC “Short” Model 7000). Kedua varian diatas dilengkapi dengan barrel yang berisi pelintiran tembakan tangan kanan sepanjang 178 mm (untuk stabilisasi mengantisipasi peluru SS109 belgia yang lebih berat).